Kamis, 02 Mei 2019

Filosofi Jurnalis (Part 1)

Dia sang jurnalis abal-abal ulahnya buat runyam para pejabat daerah setempat, akhir akhir ini dirinya selalu menjadi perbincangan para pejabat setempat, kehadirannya selalu membuat suasana yang mengusik ketentraman para elit birokrasi itu. Mungkin gelar abal-abal itu dia sendiri yang menginginkannya. Awalnya abal-abal itu di isukan untuk media yang dinilai tidak jelas. Sekelompok media berplat merah alias sudah mitra pemerintah daerah yang menjadi benteng untuk mengcounter isu miring terhadap pemerintahan. Media plat merah ini merupakan sebuah forum lokal dari kumpulan beberapa wartawan media elit dan ternama di daerah itu, juga berisikan media yang sudah teruji dan berkompetensi di bidang pemberitaan. Media itu juga adalah media yang sehari-hari beritanya menjadi konsumsi publik setempat. Ada sekitar 9 media besar isinya maka dari itu Pemda sudah aman karena telah memelihara kelompok itu. Kelompok itu bernama Pokja (Kelompok Kerja Wartawan) itu wadah forum yang mana selalu menjadi andalan Pemda jika ada kabar yang mengusik ketentraman kesenang-senangannya. Si abal-abal ini dulunya telah dikenal jelek buruk oleh kalangan elit itu, semenjak kehadirannya muncul pernah mendemo Pemda dan dewannya dengan jumlah masa 5 orang. Demo yang tidak berkabar berita, media sepi pemberitaan bahwa ada pemuda yang peduli dengan daerahnya mewakili suara rakyat menyampaikan aspirasi masyarakat, teriak teriak tidak dihiraukan oleh pejabat pemerintah, teriak teriak di Buly para dewan. Elit pemerintah dewan dan Pemkab kala itu terasa asing ada yang teriak mendemo kantornya karena selama ini tak pernah menyaksikan adegan seperti itu. Selama ini perjalanan aktivitas Pemda dan dewan sunyi tenang saja tiba-tiba ada yang berani mengkritisi tak heran tanggapan mereka negatif seakan pemuda ini mau mencari-cari kesalahan saja. Saat itu masyarakat tidak mengetahui perjuangan mereka. Saat itu juga si abal-abal ini merasakan bahwa pembungkaman itu berjalan rapi dibalik para penjilat berkostum jurnalis. Jiwa aktivisnya Chairul si abal-abal ini tidak runtuh meski aspirasi yang disampaikan tidak terberitakan justru dengan semangat dan jiwa idealisme yang tak pernah padam dan tidak mampu digadaikan oleh apapun itu perlahan dirinya mendapatkan jalan keluar untuk tetap bergerak dalam idealismenya.

Jurnalis freelance awal mulanya menginjak kaki sebagai wartawan, sebelumnya Chairul sudah pernah mencoba bekerja sebagai wartawan training di salah satu media online politik. Namun tidak bertahan lama sebagai wartawan tulisan pun belum satupun terekspos dan dihasilkan. Berita yang ditulisnya tidak pernah terangkat dan naik. Mungkin tidak memenuhi syarat media tersebut untuk menaikkan berita. Beritanya pun masih monoton dan beropini sehingga hanya habis dan putus dikirimannya ke redaktur saja. Tak berapa lama itu. Chairul tamat kuliah dan memutuskan menerima tawaran sebagai staff panwas cam. Saat itu ijazah yang digunakan ijazah SMA dikarenakan ijazah S1 kesmasnya belum keluar. Saat itu Chairul memutuskan memilih sebagai staff Panwascam dikarenakan pekerjaan yang lebih jelas dan normal seperti orang pada umumnya. Namun tak lama itu beberapa pertimbangan menghantui pikirannya, tekanan orang tua, beban ijazah S1 seakan tidak tergunakan, gaji yang diterima saat itu hitungan dengan ijazah SMA lainnya. Dipikir pikir selaku tamatan kesmas bekerja hanya sebagai staff Panwascam setara SMA maka dirinya memilih mencari peluang lain sehingga diterima di RSUD sebagai staff humas. Sehubungan dengan dirinya yang pandai public speaking, cerdas berargumen, inovatif, dan juga. Namun tak berapa lama juga meski ukuran pekerjaannya setara dengan study keilmuan dan level pendidikannya sesuai. Chairul tak menampik dirinya yang tak ingin idealisme nya padam ditengah-tengah pembangunan daerah yang stagnan baik fisik maupun non fisik membuat dirinya tak bisa tinggal diam di zona nyaman itu. Lantas dirinya mencari cara agar tetap dapat menjadi kontrol sosial yang berpengaruh untuk daerah dan masyarakat. Muncullah solusinya untuk mencari cari berita yang bisa freelance agar tetap bisa mengkritisi dan mengkawal informasi yang tertutup. Sebenarnya hal itu dilakukannya agar Pergerakannya tidak mati sebagai aktivis. Nyatanya memang benar selama bekerja sebagai pegawai harian lepas (PHL) di Rumah sakit daerah pemerintah itu, Pergerakan aktivisnya memudar perlahan disibukkan dengan kerjaan normal sebagai pegawai selain itupun tidak bisa lagi mengkritisi karena posisinya ada didalam sistem terbawah yang dikendalikan oleh elit itu. Tak bisa melawan apalagi berbuat banyak. Mengikuti arahan mau tidak mau meskipun bertentangan dengan hatinya, harus menangkal Citra buruk yang menghujam pemerintah khususnya di Rumah sakit itu meskipun itu benar tetap batasannya adalah menjaga agar Rumah sakit tetap terlihat paling baik. Pertentangan demi pertentangan itu yang memutuskannya semakin tidak nyaman di situasi yang dipikiran orang-orang begitu nyaman itu. Saran orang terdekatnya seperti kekasihnya, orang tuanya, beberapa sahabat dekatnya sangat suka Chairul bekerja di Rumah sakit karena pandangan mereka dengan bekerja disitu gaji tetap, zona nyaman, tidak ada masalah hanya menghadapi pekerjaan rutin, berpakaian rapi, pergi dan pulang tepat waktu. Tidak satupun yang setuju jika ia harus mengundurkan diri termasuk kekasihnya karena lebih bangga jika memperkenalkan sosok doi nya kalau diketahui pekerjaan nya dirumah sakit meski hanya pegawai honorer. Karena ditengah-tengah situasi perekonomian yang kompak dililiti peluang kerja yang susah maka mendapati suatu anugerah pekerjaan semacam itu sudah seperti layaknya seorang lulus pegawai negeri sipil hanya tidak ada tunjangan dan pensiun lebih. Akan tetapi Chairul memilik sudut pandang yang berbeda dengan nalurinya sebagai pemuda kritis dan kokoh idealisme nya. Dirinya merasa seperti digunduli karena tidak dapat berbuat Apa-apa lagi, menyuarakan kebenaran terbungkam, bahkan yang dulunya sempat menjadi sorotan karena menggertak pemerintah seakan dapat ditundukkan oleh pemerintah itu sendiri pada akhirnya. " lebih baik mati dalam keadaan berdiri ketimbang Hidup dengan berlutut dihadapan orang lain" tiba rasa pikirnya menghasut dirinya. Sang kekasih lah yang sedikit banyak memahami karakter kerasnya yang tidak dapat dibantahkan oleh siapapun. Selama menulis freelance itu, dirinya mulai berani kembali menulis hal yang benar namun selalu menyakitkan bagi kalangan elit. Tak tinggal diam Bupati menginstruksikan Sekda untuk mengumpulkan Pokja wartawan. "Pemda saat ini dan akhir akhir ini mendapat temuan ulah siapa tulisan yang mencemari nama Pemda saat ini" ujar Sekda. Chairul beberapa kali membuat berita miring yang didapatkannya dari narasumber Narasumber yang memang fakta dilapangan tentang fenomena sosial di masyarakat yang tidak pernah mampu ditangani Pemda. Pemda yang saat ini tidak pernah terbuka ke publik dengan rentetan masalah yang disembunyikan nya secuil mulai bocor ke publik. Dan masyarakat mengetahui hal itu. Sekda bertanya kepada seluruh jajaran Pokja dan meminta segera mencari solusi agar pemberitaan miring cepat di stop. Namun Chairul sebagai wartawan freelance tak cukup lah kuat untuk memfungsikan kebebasan pers nya dikarenakan pers pun saat ini dikalungi oleh aturan-aturan dan ketentuan dalam  pemberitaan. Media yang dipegang Chairul sebagai kendaraan freelance nya ini termasuk dalam kategori media abal-abal yang tidak terdata apalagi terverifikasi badan pers. Setelah dikroscek oleh Pokja dan membandingkan dengan media mereka yang bergening. "Suatu hal yang saya pantau dari media yang memberitakan ini, yaitu media ini memiliki kelemahan legalitas alias belum legal" imbuhan itu disampaikan oleh ketua Pokja Husni di ruang rapat gedung pertemuan pemerintah itu. "Lihat saja ! Saya sudah mensercing medianya dan ternyata media ini belum legal, Pemda dapat berargumen bahwa pemberitaan itu diragukan, bahkan peliputan nya bisa di halau dengan dipertanyakan nya media itu sebagai media abal-abal maka wartawan nya pun Abal Abal apalagi wartawan yang menulis adalah memiliki history tukang demo kemarin, dan saat ini hanya freelance begitupun kerjanya ada di bawah lingkup pemerintahan alias anak bawang (PHL), Si kecil berkacamata itu praktek liputan abal-abal" kata ketua itu. " Jadi pak sekda penjelasan ketua tadi bisa kita tarik solusi bahwa media itu dengan wartawan nya bisa ditolak liputannya karena dia abal-abal", dengan gaya yang serius seperti membahas masalah kegentingan Negara anggota Pokja Junet dari media radio itu memperjelas maksud ketua Pokja.

Chairul bekerja sebagai wartawan freelance di salah satu kantor berita yang pernah populer 20 tahun yang lalu yang kini hanya menyajikan berita berita web atau online saja. Sebagai wartawan freelance alias tanpa upah tidak terikat itupun ditekuninya sebab hobinya menulis dan berorasi yang diformulasikannya sebagai tempat menyalurkan kedua hal itu. Beruntungnya Chairul masih punya pendapatan bulanan dari pekerjaannya sebagai salah satu pegawai honorer Rumah sakit itu. Menurut kepala Badan kepegawaian daerah kabupaten nya pegawai honor dengan ijazah S1 sepertinya di bayar jasanya sebesar 2.050.000 rupiah sedangkan untuk tamatan SMA di berikan sebesar 1.500.000 rupiah serta untuk Diploma atau D3 upahnya sebesar 1.750.000 rupiah. Namun itupun tak Untung banyak buatnya karena gaji itu dipergunakannya untuk membayar cicilan motor CBR yang sengaja di kreditkannya agar ada ikatan lain selain kontrak kerja yang bisa menahannya untuk berhenti bekerja sebagai pegawai. Chairul Memiliki kebiasaan buruk yakni mudah berpaling pekerjaan dan tidak pernah betah dengan penuh pekerjaan apalagi pekerjaan sebagai pegawai atau bawahan yang tiap kali memakan perintah atasan ditambah lagi perintah yang diterima terkadang bertentangan dengan hati nurani dan menyelewengkan norma yang ada. Sebab itulah agar tidak mudah resign dari pekerjaan sekarang seperti yang pernah terjadi sebelumnya, alternatifnya adalah dengan mengkredit kendaraan motor yang beban bulanannya 85% dapat memotong gaji pokoknya itu. Tiap bulan hampir tidak mencicipi gajinya itu karena terpotong 1.616.000 bayar kreditan sisanya dibuat servis motor dan kebutuhan bahan bakarnya.

Tidak sempat sarapan Chairul pagi-pagi dituntut absen pegawai tiap setengah 8 pagi sehingga selalu terbiasa dengan bangun pagi. Habis isi absen seperti biasa dirinya nongkrong di warung kopi depan rumah sakit itu, terlihat seperti tidak ada kerjaan karena memang dia memiliki alasan kenapa nongkrong disitu jelas karena sejak pertama masuk kerja tidak disediakan ruangan, meja, komputer dan alat untuknya bekerja sehingga pekerjaan nya on call alias apa saja perintah atasan dikerjakannya seringkali melenceng dari bagaiannya Sebagai staff Humas, terkadang mengerjakan administrasi pegawai, menginput data kenaikan pangkat dan jabatan pegawai negeri sipilnya, bahkan disuruh ngantri solar mobil atasannya Kabag TU juga hampir jadi tupoksinya. Hal-hal semacam itu memang terlihat nyaman karena bekerja tanpa ada beban tetap seperti pegawai lainnya tapi seperti tidak diakui meski gaji lancar. Tatkala sering Chairul memanfaatkan waktu waktu nganggur itu dengan mencari berita sehabis absen dan kembali lagi ke kantor seperti itulah terkadang harus menahan diri dan sedikit tau diri bahwa tidak sepenuhnya dia berlabel wartawan yang bisa meliput seperti wartawan lainnya. Jam kantor tugas kantor dilakukannya setengah hati meski bergaji, sementara jam freelance sebagai wartawan dapat dilakukan sepenuh hati meski tanpa sepeser gaji tak bisa dipungkiri terkadang ada rejeki rejeki kecil dari hasil liputan dilapangan.

WARTAWAN FREELANCE WARTAWAN ABAL-ABAL

jiwanya yang lebih cenderung kritis tak bisa mengelakkan dirinya menjadi lebih peka memandang sudut pemerintahan itu ke zona yang harus dikritisi dan tidak bisa didiamkan. Sementara berbeda dengan media lain yang bukan berasal dari jiwa yang kritis yang hanya memandang wartawan sebuah pekerjaan yang ditekuni sementara tidak begitu paham kebiasaan untuk mengkritisi kebijakan. Karena terdidik oleh dunia aktivis mahasiswa pendemo jiwa itu tertanam nyata bahwa tiap kali ada kebijakan yang tidak pro rakyat apalagi pemerintahan yang stagnan tanpa kemajuan fisik dan nonfisik menjadi kebiasaannya untuk tertarik mendobrak hal itu.
LKPJ Bupati tahun 2017 akan dilaksanakan sekitar pukul 09.00 Wib, sedangkan sekarang waktu masih pukul 08.00 wib. Chairul menghubungi sahabat wartawan menanyakan ada agenda apa hari ini ?, "Hari ini liputan di dewan ada LKPJ Bupati" jawab Oma dari berita Bangka. Kembali ku membuka refrensi di Google tentang berita yang membahas LKPJ, ku baca satu per satu muatan media dari daerah lain yang berkaitan dengan tulisannya mengenai LKPJ, hal ini dilakukan agar saat di dewan ku tau harus mewawancarai apa, dan kecenderungan apa yang bisa dikritisi melalui ini. Refrensi yang ku dapat yakni LKPJ ini adalah salah satu Rapat yang penting dan wajib dilakukan oleh eksekutif dan legislatif dikarenakan membahas tentang pertanggungjawaban hal-hal selama tahun pemerintahan dan evaluasi untuk DPRD memberikan rekomendasi-rekomendasi ke Bupati untuk tahun berikutnya. Ada juga ku baca tentang LKPJ tidak dihadiri oleh elit DPRD sehingga LKPJ batal dilaksanakan. Kebanyakan muatan beritanya kurang seru membahas seremonial, dan ku tidak tertarik untuk menulis hal yang seremonial karena media ku media yang ingin mengangkat sesuatu yang bisa menjadi isu penting dan menarik dibaca sesuai dengan keinginan ku bisa menulis hal yang mengkritisi pemerintah.
On the way ke gedung Mahligai Betason II jam sudah menunjukkan pukul 09.25 Wib ku sudah terlambat kemungkinan acara itu telah dimulai dan semoga saja ku tidak ketinggalan beberapa kata sambutan yang harus ku rekam. Cuaca tampak kurang mendukung rintikan hujan yang tidak kencang namun jatuhnya seperti batu kerikil menghantam motor dan kacamata ku sejalan jalan ku tutupi kaca helm nya agar terlindungi. Hujan ini tidak deras namun cukup membuat ku menyumpah nyumpah pasalnya hujan yang tak seberapa ini seakan sengaja hanya untuk menghujamkan pakaian ku agar basah. Masuk persimpangan Pemda ku terus melaju menerjang gas lebih kencang di track lurus jalanan Pemkab yang aspalnya mulus itu. Dari 70 Km/jam hingga naik ke 100 km/jam tiba di persimpangan lagi sedikit ku kendalikan kecepatan karena sudah dekat, dan ternyata terlihat masih belum dimulai ternyata rapat yang dijadwalkan pukul 09.00 Wib. Ku tatap ke langit sebelah arah ku tadi melintas langitnya mulai cerah dan panas. Andai saja tadi ku tau cuaca akan cerah mungkin ku tidak buru buru kesini. Ku parkirkan kendaraan ku di belakang, Melihat sekumpulan wartawan Pokja dan wartawan lain sedang dalam satu lingkaran. Ku menjaga jarak dari mereka karena ku tau mereka mungkin tidak mengenaliku sebagai wartawan karena ku baru sebagai wartawan dan hanya wartawan freelance semacam ini ku berpikir akan ada kelas dengan mereka. Dewan-dewan ber jas berpenampilan rapi dan gagah satu persatu memasuki gedung Paripurna itu, pejabat pejabat birokrasi berplat merah juga telah lebih dulu di dalam. Dan ternyata yang masih ditunggu ini pemimpin kepala daerah yang katanya masih dalam perjalanan, sementara ketua DPRD lebih dulu tiba. Ku menghampiri daftar absen hadir tamu, "permisi mbak, mau lihat daftar undangan izin mbak?" Mulai ku menggali gali sesuatu yang menyangkut kegiatan ini. Dalam daftar tertera dari daftar dewan yang totalnya 25, terisi 13 orang, dan daftar pejabat kepala dinas ku lihat sudah terisi meskipun tak sedikit yang diwakili. Rombongan wartawan wartawan ku lihat disapa akrab oleh para pejabat dan wakil rakyat, akrab betul seperti kawan tongkrongan. Sementara mereka sebagian tidak kenal ku, dan ada yang mengenali ku sebab pernah ku demo dahulu. Ku lihat orang mulai sibuk memasuki ruangan, dan sebagian berlari untuk berdiri didepan pintu gedung Paripurna itu rupanya sang nomor 1 tiba tepat pukul 10.20 Wib. Mobil menerobos masuk dengan plong langsung berhenti depan pintu masuk, memang satu satunya yang mampu menghentikan kendaraannya disitu hanyalah kepala daerah atau yang memiliki kuasa.
Pria berbadan besar keluar dari pintu depan mobil dengan kegesitannya langsung membuka pintu belakang mobil dan mempersilakan sang pejabat daerah itu keluar dengan dibukakan pintu dan dibawakan tas dompetnya. Alangkah enaknya jadi Bupati disegani, dihormati, dipuja, dan dilayani. Potret yang banyak di angan angan kan oleh orang begitu juga politisi, berlomba lomba untuk bisa menduduki kursi seperti Ali Han. Ali Han sudah 2 x naik sebagai derajat yang tinggi di kabupaten ini. Pernah tahun 2006-2011 sebagai Bupati, dan direbut periode selanjutnya oleh sang ustadz Zuhri, kemudian rebut kembali kursi itu sampai periode sekarang 2016-2021 berpasangan dengan Markus yang memiliki Abang sang pengusaha kapal isap sedangkan Markus salah satu anggota dewan pada saat itu. Dibincangkan orang bahwa Ali Han menggandeng Markus ke pelaminan itu karena suport dana dari keluarga Tionghoa ini kencang sehingga dapat membantu mendongkrak suara melalui the power of money !... Usia Ali Han sudah 78 tahun usia yang sudah tidak muda lagi, terkadang padahal dia sering terbalik membacakan Pancasila pada saat apel upacara. Pidatonya texbook dan tak mampu merangkai kata kata sendiri.
Semua tamu yang hadir, rekan media yang tadinya diluar mulai masuk semuanya, prosesi acara formal itu siap dilaksanakan semua tamu undangan mengambil posisinya dan aku terus mempelototi disekeliling ku, kursi para wakil rakyat terlihat tidak dipenuhi oleh semua parpol, sementara semua peserta hadir menunggu acara dimulai. Sementara itu sembari menunggu sang Bupati di persilahkan menunggu diruangan VIP bersama para forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) yang tergabung didalamnya itu adalah Pejabat tinggi daerah, Kapolres, Dandim, Kejari, dan semua kepala pimpinan institusi dan lembaga yang ada di Bangka Barat itu. Ternyata setelah ku ketahui rapat tidak jadi digelar tidak mencapai quorum dewan yang hadir. Sidang ditunda tak disangka sekian lama menunggu namun tidak jadi digelar.
"Mbak siapa saja yang tidak hadir" tanya ku ke pegawai setwan. "Ada fraksi PKS, dan yang lainnya jugalah" , tiba-tiba rencana itu gagal sudah kurencanakan akan bertanya apa tadi tapi ternyata acara tidak jadi digelar. Ku hampiri sekawanan media online yang cukup akrab dengan ku. "Liputan tohhh? Pak Kabid Humas RSUD ikut meliput" oloknya kepada ku. Lantaran alasan alasan itu tak bisa ku jelaskan kepada mereka, seakan pikir mereka ku bukan laki orang yang dikenal mereka suka mengkritisi pemerintah toh Sekarang jadi honor di pemerintahan. "Bosan dirumah sakit, jadi liputan, lebih menjiwai" ... Lantaran mereka sedikit tidak menginginkan kehadiran ku karena mereka merasa ku serakah ingin liputan seperti layaknya wartawan namun disisi lain ku juga ngambil pekerjaan di Rumah sakit itu. Mereka berpikir seakan tak cukup sudah bekerja di Rumah sakit yang seribu orang melamar disitupun belum tentu bisa mendapatkannya meski sebagai honor atau tenaga kerja sukarela (TKS) sekalipun. Tiap orang-orang memandang Bekerja di Rumah sakit, PHL di pemerintahan itu sudah luar biasa karena 10% dari 100% peluang bisa masuk kerja di pemerintahan. Tak heran jika rata-rata pegawai honorer Pemda di cap sebagai titipan atau "orang dalam" yang masukinnya. Tetapi memang benar Setelah ku bekerja di Rumah sakit itu ku mengetahui isi dalam birokrasi, organisasi, dan sistem nya salah satunya sistem perekrutan nya. Banyak lamaran lamaran yang menumpuk bertahun-tahun hampir tidak pernah tersentuh dikarenakan selalu disingkirkan lamaran lamaran yang berlabel disposisi Bupati itu. Tiap kali ada lamaran disposisi Bupati artinya sudah memenuhi syarat Bekerja dirumah sakit. Bahkan ada yang sudah seminggu bekerja lamarannya baru di berikan ke bagian kepegawaian di Rumah sakit. Pihak kepegawaian Rumah sakit tak heran lagi jika tiba-tiba ada anak baru yang tidak terdaftar di data kepegawaian rupanya sudah masuk hitungan gaji Rumah sakit, data SDM nya belum di input tapi sudah bekerja. Tak heran Rumah sakit itu bagiku telah dipenuhi para sampah sampah dari tanda tangan orang atas "BUPATI". Dampaknya masyarakat selalu mengkeluhkan dan melaporkan perihal pelayanan yang tidak baik kepada pasien, kualitas pelayanan pastinya akan berpengaruh karena hal ini.
Dari belakang rekan wartawan menepuk punggungku "kita wawancara fraksi PKS tadi dilihat di daftar tak satupun yang hadir" dia mengajak seluruh rekan media di sekelilingku yang memang akrab dan sudah mengenali ku. Sementara rombongan Pokja dan yang lainnya bergegas balik. "Siapa yang memiliki nomor ketua fraksinya, namanya itu Samsir" sahut Oma, pertanyaan itu langsung dijawab kebetulan wartawan media online politik Sumar sudah pernah mewawancarainya lewat telpon mungkin ajakan dia tadi karena kebetulan dia memiliki yang bisa dihubungi. Semua setuju untuk menanyakan ketidakhadiran sebagai berita karena kebetulan semuanya membutuhkan berita untuk hari ini.
"Ku telpon saja Samsir ketua fraksi PKS wawancara Lewat telpon", seluruh rekan media yang lain langsung memandangi Sumar, dan aku hanya mengikuti saja gaya dan alur mereka sehubungan ku menjadi wartawan jarang meliput tidak seperti mereka yang tiap hari dikejar redaktur untuk berita. Apapun hasil wawancaranya biasanya selalu berbagi bahan rekaman atau pun rilis yang sudah jadi. Sumar langsung bersiap untuk menelpon dan meminta Sendi Garuda news mempersiapkan hpnya untuk merekam pembicaraan itu. 3x ditelpon belum diangkat oleh Samsir, telpon berdering terus hingga akhirnya Samsir mengangkat telpon itu, suasana pun kompak diheningkan si Oma berita Bangka langsung mensilent hp nya yang tadi sedang asik maen game, Ira klik Babel langsung mendekat ingin mendengar yang dibicarakan di telpon, si bang Chamci tiba-tiba membuka headset nya menutup aplikasi karoke online itu, Nurdin Bangka pos ikut menunggu pembicaraan itu dimulai, aku pun sama menunggu apa yang dibicarakan dalam wawancara menggunakan sambungan telepon itu. "Ya halo, assalamu'alaikum" ... "Kenalkan pak sumar Rakyat MERDEKA online pak" ... "Iya ada apa ya?" Mulai penasaran narasumber dengan telpon yang mendadak merupakan dari wartawan. Tampaknya Samsir terganggu dengan panggilan wartawan yang membuatnya khawatir akan menanyakan hal hal yang tidak diinginkan dan membuatnya susah untuk menjawab. Samsir seakan merasa terjebak dan menyesal telah mengangkat telpon dengan nomor yang tidak dikenal itu.
"Begini pak dewan, kami mau tanya, bapak tidak hadir di LKPJ Bupati 2017 alasannya pak?" .. lantas suara dan nada bicara samsir pun jadi sedikit lebih santai dengan menjelaskan alasan ketidakhadirannya itu "memang partai ada kegiatan yang sangat urgent" "mungkin PKS beda dengan partai yang lain, kita dipaksa untuk mengikuti, walaupun bukan karena kegiatan itu dianggap tidak penting" sekilas obrolan telpon itu pun lalu segera diakhiri ketika telah mendapatkan keterangan dari ketua fraksi PKS itu, setelah sedikit berbelit untuk memancing sang narasumber agar membuka bicara bicara yang diharapkan ku dan kawan-kawan agar ada salah salah bicara agar bisa ditulis dengan persepsi publik yang bisa menjatuhkannya nanti. Namun itu sudah lumayan cukup meskipun tidak bisa memaksa lebih dalam lagi karena retorika bicara seorang DPRD Babar itu diakui mahir dalam bersilat lidah sehingga agak kesulitan membuka mulutnya. Setelah itu rekaman pembicaraan itu dibagi bagi, ku yang saat itu ingin selalu menulis hal miring tentang pejabat agar Citra nya jelek mulai mendengar rekaman itu untuk cari cari kesalahannya meskipun sebenarnya tidak ada masalah pribadi antara ku dan dia begitupun yang lainnya. Kami mendengar rekaman itu berulang-ulang fokus dengan alat ketiknya masing-masing mendengar rekaman berulang-ulang perlahan lahan menulis dan menjadikan sebuah berita setelah di transkrip mencari sudut pandang yang menarik untuk diangkat.
Judul yang kubuat sengaja untuk memancing publik mencibiri sikap ketua fraksi PKS itu "kepentingan Partai, PKS tidak hadir LKPJ Bupati" judul ku ini mengarahkan persepsi seakan akan menjadi wakil rakyat tidak begitu penting ketimbang kepentingan partai politiknya.
Hari demi hari terlewati, waktu silih berganti hampir disetiap pemberitaan yang ku sajikan selalu berbumbu tak sedap untuk para elit politik dan penguasa karena tujuanku memang ingin mengkritisi dengan menjatuhkan kewibawaan mereka dan pencitraan mereka. Ternyata lama kelamaan ku sendiri rekan wartawan yang biasa berbagi rekaman denganku telah dijinaki oleh sekelompok wartawan Pokja yang dekat dengan pemerintah, yang mendapatkan imbalan dari pemerintah kala itu, timbul di suatu ketika ku ingin meliput dan mewawancarai dinas Pendidikan karena beredar kabar ada penggelapan dana Beasiswa untuk siswa kurang mampu oleh oknum birokrasi. "Permisi ibu, saya dari Reportase Bangka izin ingin bertemu kepala dinasnya Bu?" , "Oh maaf pak sebentar ya, kita cek dulu surat tugasnya" . Ternyata saat itu ku telah dicekal dan tidak dapat meliput pemerintahan karena Pokja dan pihak pemerintahan telah sepakat untuk menolak segala media yang tidak legal, wartawan yang tidak tersertifikasi, dan wartawan freelance dengan alasan saat ini banyak media media bermunculan yang diragukan kejelasan nya ditambah lagi ditengah-tengah masyarakat isu hoax semakin merambah. "Maaf ya kami tidak dapat mengizinkan dikarenakan media ini tidak tersertifikasi dan jelas" , "loh kok begitu Bu ini kebebasan pers kok kita dilarang" " memang sudah aturannya begitu pak. Permintaan yang tadi nya ditanggapi sedikit meningkat tensinya menjadi debat dan pada akhirnya ku gagal menemui narasumber yakni kepala dinas dikarenakan ditolak dalam liputan Kesitu.

Robby salah seorang mahasiswa lulusan Al-Azhar Jakarta baru saja pulang dari Rusia mengikuti ajang enterpreneur muda internasional mewakili Indonesia, hari ini dia kembali ke tanah air setelah selesai masa karantina pendidikan non formal di luar negeri itu. Setiba turun dari Bis Kota itu ia menatap sekelilingnya menghirup udara Bangka yang telah lama tidak dijumpai nya ini "welcome My country, udara yang ku rindukan akhirnya, haah" menghela nafasnya. Dikejauhan persimpangan jalan ia menghampiri toko majalah pinggir jalan itu, melihat lihat ada kabar apa kotanya saat ini setelah lama ditinggalkannya. Dibaca bacanya berita hari itu berita koran harian itu. Tak ada yang begitu menarik ternyata namun tetap saja berita itu harus turun agar tidak tertunda satu hari pun kabarnya.